Beberapa hari lagi Lebaran. Walaupun saya bukan muslim, tapi saya menikmati suasana lebaran. Bukan di sini maksudnya, karena di sini bener2 gak berasa. Di kampung saya dulu, di Jakarta. Keluarga saya memang bukan pribumi (bule ??? nggak diiing…. ) dan bukan muslim. Tapi kami tinggal di kampung di bilangan Jakarta Selatan. Sejak sebelom saya lahir, bapak dan ibu saya menetap di tempat tinggalnya sekarang ini. Konon, menurut cerita bapak ibu saya, pertama kali mereka pindah ke sana, suasana masih seperti hutan. Jalanan becek, jalanan blom diaspal. Sampai2 nenek saya bilang ngapain tinggal di tempat jin buang anak. Itu dulu. Sekarang lokasinya menjadi strategis karena dekat kalo mau kemana2. Saya ingat, dulu waktu saya berkantor di daerah Sudirman, saya hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai kantor.
Karena keluarga kami adalah “orang asing” di daerah tersebut, adaptasi pun memerlukan “usaha lebih”. Namun, seiring dengan waktu, keluarga kami benar2 membaur dengan warga lainnya. Ibu saya sering memberikan service jahit menjahit gratis untuk warga. Makanya sampe sekarang ibu saya ngetop banget di sana. Dan saya ingat, teman2 maen saya waktu kecil semua anak2 betawi. Kakak2 saya pun begitu. Saya masih ingat nama2 anak2 tersebut Eet, Eulis (kalo ini bapaknya Sunda kalo gak salah), Ulay, Wati, dll (ke mana mereka sekarang ya ? Jangan2 pada hobby nge blog). Lucu juga kalo ingat masa kecil. Gak ada tuh acara maen barbie. Mahal ! Yang ada kita maen masak2an, pake daun2an dari kebun, maen karet, maen bubbles pake air sabun colek yang dikocok sampe busanya halus banget dan airnya habis, naek sepeda mini yang ada keranjangnya di depan.
Karena kami tinggal di kampung, pada saat kerusuhan 98 dulu, keluarga saya aman. Warga berjaga2 di ujung gang supaya gak ada perusuh yang masuk kampung. Sementara di jalan raya di depan sana, keadaan benar2 mengerikan
Bapak ibu saya pun betah tinggal di sana. Sampai sekarang mereka belom berpikir untuk pindah.
Dan efek dari tinggal di kampung lainnya adalah keluarga saya jadi tidak racist dalam arti, kita harus bisa bergaul dengan siapa saja, tidak memandang ras, agama, golongan, dll. Begitupun dalam urusan jodoh. Selama jodohnya masih dari species manusia dan orangnya baik2, sayang keluarga, dll dll dalam arti yang positif, bapak ibu saya tidak keberatan sama sekali. Contohnya adalah di sini, Fino merupakan produk blasteran cina jawa. Selain itu bapak ibu saya juga sudah menjadi kakek dan nenek dari seorang balita blasteran cina batak jawa.
Karena tinggal di kampung seperti itu, kita pun ikut menikmati saat2 Lebaran. Rame banget. Setiap lebaran, keluarga kami mendapat kiriman ketupat lengkap dengan lauk pauknya. Semur daging kerbau (ala betawi), sayur labu, laksa. Selain itu juga kami sering mendapat wajik, ketan (ketan apa ya namanya, manis dikasih gula gitu), kue bakar bentuk bintang, kue bawang, dll. Huhuhuhu… jadi pengen makan ketupat….
Setiap lebaran, setelah solat Ied, anak2 di kampung kami keliling dari rumah ke rumah. Salaman ke orang2 tua. Anak2 sekampung pasti mampir ke rumah kami. Heboh banget. Sampai sekarang tradisi masih jalan. Bapak ibu saya pasti menyiapkan koinan untuk anak2 (sekarang mah koin gak lauk lagi yak ?). Lucu. Nanti kalo siang tuh, hasil salaman itu akan mereka pakai untuk jajan. Biasanya tukang bakso langganan akan mangkal di depan rumah kami. Laris manis dengan anak2. Saya sih dulu gak ikutan keliling, lah wong muka saya begini, mana ada yang percaya kalo saya lebaran ??? Dan kalo sore, biasanya giliran bapak ibu saya yang keliling ke tetangga2 untuk silahturahmi.
Sebagai akhir kata di postingan ini, untuk semua yang merayakan, Fino, abang dan saya sebagai pengetik blog, mengucapkan:
Selamat Hari Raya Idul Fitri
Mohon maaf lahir dan batin kalo ada salah2 kata selama ngeblog